Kebersihan Nabi saw

Betapa mengagumkannya ketika Nabi Muhammad saw memerintah umatnya untuk membersihkan seluruh badan dengan air, sementara sampai abad pertengahan, orang eropa yang dianggap telah maju peradabannya belum mengetahui manfaat mandi itu, bahkan mandi di sungai dapat di anggap sebagai pelanggaran hukum.

“Mandi berharga sekali bukan hanya karena membersihkan, tapi juga menguatkan kulit, menyegarkan badan, dan merangsang alat pencernaan dalam pertukaran zat. Menguatkan kulit adalah suatu kewajiban yang penting karena ia menghindarkan sejumlah penyakit (selesma, radang kerongkongan, batuk, radang paru-paru, radang selaput paru-paru, dsb.). Satu-satunya cara untuk menguatkan kulit ialah dengan menyiraminya setiap hari dengan air dingin; dengan mana rangsangan terhadap kulit akan langsung mempengaruhi urat-urat darah dan otot-otot kulit. Membasah kulit dada misalnya, akan langsung merangsang pusat pernapasan di otak, menyebabkan penarikan napas yang lebih dalam, mempercepat aliran darah, dan memanaskan organ-organ, seperti paru-paru, buah pinggang, hati, usus, dan sebagainya. Ini akan menghindarkan beberapa macam penyakit, sebab pengeluaran zat-zat racun dari tubuh manusia dipercepat.”(kutipan artikel karya dr. Jamieson)

Dan sudahkah kita dengar juga bahwa di dalam istana Catherina de Medici, tidak ada kamar mandi. Juga di dalam istana raja-raja spanyol yang disebut excoriaal terdapat 3000 kamar, tetapi tidak ada satu kamar mandi pun. Di tempat peristirahatan di Versailles dari Raja Lodewyk XIV, hanya terdapat satu kamar mandi rendam (bad kuip), tetapi oleh karena tidak pernah digunakan, maka kamar mandi rendam itu dipindahkan ke suatu park untuk dijadikan fontein. Demikian halnya dengan Goethe dan Richard Wagner, hanya mempergunakan satu cangkir kecil untuk menyeka badannya.

Kulit adalah alat tubuh yang terbesar pada manusia, luasnya kurang lebih dua meter persegi, beratnya tiga kilogram, mengandung sepertiga dari jumlah darah yang mengalir dalam tubuh kita. Setiap satu sentimeter persegi kulit mrngandung dua aparat pencatat dingin, 12 aparat pencatat panas, tiga juta sel, lebih-kurang 10 helai rambut, satu meter urat darah halus, 100 kelenjar keringat, 3000 sel perasa, 4 meter urat syaraf, dan 25 aparat pencatat tekanan. Kulit mempunyai beberapa alat penerima untuk rasa sakit, rabaan, tarikan, tekanan, aliran udara di badan, panas, dingin, pancaran sinar-sinar gamma, rontgen, ultraviolet, kosmis, inframerah, UGK, dan sebagainya. Maka jelaslah kiranya betapa pentingnya pemeliharaan kulit kita.

Kebersihan adalah pangkal kesehatan, dan alat utama untuk kebersihan adalah air. Dengan air hampir segala kotoran dapat dibersihkan. Air adalah pelarut terbaik. Islam sudah lama telah mengatakan bahwa airlah alat utama untuk kebersihan. Dapat kita katakan, bahwa islamlah yang paling banyak menyuruh memakai air sehingga mempelajari air dengan teliti. Islam pulalah satu-satunya agama yang mewajibkan umatnya memakai air untuk kebersihan. Baru pada abad 19 manfaat dari pembersihan tubuh secara teratur mendapat penghargaan yang selayaknya. Padahal jauh berabad-abad sebelumnya, Nabi Muhammad saw telah tampil ke hadapan manusia dengan ajaran kebersihannya dan keteladanannya, kebersihan jasmani dan rohani.

Seorang seperti Nabi Muhammad, yang tak tahu membaca menulis, tidak terpelajar, tidak hidup di lingkungan orang yang pandai, tidak pula di lingkungan kaum yang hidup bersih, dan tidak bergaul dengan orang-orang yang ahli dalam urusan medis, kebersihan, dan tata aturan kesehatan, tetapi senantiasa menggosok giginya sehingga giginya putih laksana mutiara, selalu berkumur-kumur dan membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan setiap selesai makan, dan menggosok gigi setiap sebelum sholat dan pekerjaan-pekerjaan yang lain, baik di waktu pagi, siang, petang, dan malam hari. Nabi Muhammad saw hampir tak pernah meninggalkan gosok gigi sehingga sempat berkata pada sahabatnya, “Setiap Jibril datang menemuiku, ditanyakannya apakah aku telah menggosok gigiku, sehingga aku khawatir kalau-kalau gigiku menjadi rontok.” Seorang yang tak pernah belajar bahwa banyak sekali penyakit yang dapat melewati selaput lendir mulut dan hidung, tetapi menilai dan menghargai sikat gigi itu sedemikian tingginya sehingga dalam keadaan bagaimanapun ia tidak pernah melalaikan untuk mempergunakannya, bahkan pada saat terakhir dari kehidupannya, ia masih sempat pula menggosok giginya untuk beberapa saat, kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Telah menjadi kebiasaan semasa hidup Nabi, bila bangun tengah malam untuk melakukan sholat tahajjud, lebih dahulu ia membersihkan mulut dan menggosok gigi dengan sikat gigi. Pada suatu kesempatan, Beliau pernah mengatakan, bahwa menyikat gigi itu bukan saja membersihkan mulut, akan tetapi juga menyenangkan Tuhan. Ditinjau dari ilmu kesehatan modern, ucapan Nabi saw ini sangat menakjubkan, oleh sebab baru sesudah 1250 tahun, yaitu pada tahun 1880, pemakaian sikat gigi menjadi umum.

Kita pantas mengagumi pengetahuan Rasulullah saw sebagai seorang yang tak dapat membaca dan menulis, apalagi masuk laboratorium untuk melaksanakan ekspereimen-eksperimen dan penyelidikan-penyelidikan di dalamnya. Seorang ummi yang hidup dalam masa di mana pengetahuan manusia terhadap kebersihan dan kesehatan begitu rendah, seorang yang memerintahkan umatnya untuk benar-benar mencuci bekas kencing tanpa pernah menyelidiki tentang mycosis atau folliculitis misalnya. Seorang yang tak pernah belajar dari seorang dosen tentang pengaruh sinar ultraviolet terhadap proses pengurangan zat-zat kimia, tentang toxin-toxin yang berbahaya pada bangkai, tentang epidemi dan pademi, dan lain-lain. Seorang yang diperanakkan di suatu kaum dan dipelihara di desa yang pada galibnya tidak terkenal bersih, tetapi mengetahui dan mementingkan kebersihan serta mengajarkan banyak hal-hal yang dituntut dan diterima oleh akal sehat manusia, yang melarang mencelupkan tangan ke dalam bejana air sebelum mencuci tangan terlebih dahulu, yang melarang buang air kecil di tempat-tempat yang tidak mengalir airnya, yang melarang keras buang air di tempat-tempat manusia berteduh, di jalan-jalan, di bawah pohon-pohonyang sedang berbuah. Seorang yang berpesan, ”Apabila seseorang di antara kamu makan suatu makanan, maka hendaklah ia mencuci tangannya dari bekas daging.” Seorang yang mengajarkan kepada umatnya untuk tidak membiarkan kain bekas penyeka tangan bermalam dalam rumah, seorang yang senantiasa memotong kuku dan membersihkannya sehingga tak pernah kelihatan noda-noda di balik kukunya. Seorang yang membersihkan mulut, gigi, hidung, muka, telinga, tangan, dan kakinya beberapa kali dalam sehari di setiap ia berwudlu, seorang yang gemar memakai wangi-wangian sehingga sehingga di akhir hayatnya pun, ketika ia dimandikan, mereka (para sahabat) mendapatkan Nabi begitu harum sehingga Ali berkata, “Demi Ibu Bapakku! Alangkah harumnya engkau di waktu hidup dan di waktu mati.”

Ajarannya dan cara hidupnya, telah menjauhkan dirinya dari segala penyakit. Ia tidak makan kecuali bila ia lapar; dan bila ia makan, tidak sampai kenyang. Jika kita pelajari riwayat hidupnya, kita akan melihat bagaimana ia membatasi diri dalam makanan. Keluhurannya jauh dari hawa nafsu, jiwanya begitu tinggi tiada taranya, eksistensinya memancarkan kesucian dan kebenaran dari segala aspek. Ia bukan orang yang menuntut harta kekayaan, kedudukan maupun kekuasaan. Ia jauh dari itu semua.

Itulah Nabi Muhammad saw, guru bagi sekalian pengajak kebersihan dan hidup sehat. Tak ada satu pun kesehatan dan kebersihan yang patut bagi manusia yang luput dari pemeliharaannya. Tak seorang pemimpin dan Nabi pun yang dapat menandingi kebersihannya. Datang ke hadapan umat manusia membawa ajaran-ajaran Tuhan, obat bagi hati dan pegangan serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

“Sungguh telah ada bagimu dalam kelakuan Rasulullah itu suatu contoh teladan yang baik sekali bagi siapa-siapa yang mengharap keridhaan Allah dan kesejahteraan hari kemudian.”

(QS Al-Ahzab: 21)

Advertisements

Tags: , , , , , , ,


%d bloggers like this: