Kisah Awis Al-Qarny

Awis Al Qarny adalah seorang Tabi’in, generasi setelah shahabat, artinya dia tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidupnya. Tapi dia mempunyai keistimewaan, yakni dia adalah salah seorang yang telah diramal keberadaannya dan di sebutkan namanya di hadapan para shahabat oleh Rasulullah. Berikut beberapa riwayat yang menjelaskan tentang hal ini.
Dari Abu Nadhrah, dari Usair bin Jabir, dia berkata, “Abu Nadhrah biasa menyampaikan hadits di Kufah dan juga menyampaikannya kepada kami. Jika sudah selesai dalam penyampaiannya, dia berkata, “Sekarang silahkan pulang.”
Saat itu ada seseorang yang tetap berada di tempatnya, yang mengatakan sesuatu yang tidak pernah kudengar yang seperti itu dari siapapun. Kemudian orang itu pergi da aku bermaksud hendak menemuinya.
Aku bertanya kepada rekan-rekanku, “Apakah kalian tahu seseorang yang cirinya begini dan begitu, yang juga ikut duduk bersama kita?”
“Ya, aku mengenalnya,” kata seseorang di antara mereka, “dia adalah Awis Al-Qarny.”
“Apakah engkau tahu tempat tinggalnya?”
“Ya, aku tahu,” jawabnya.
Maka aku diantarkannya hingga tiba di rumahnya. Aku mengetuk rumahnya dan dia keluar menemuiku. Aku bertanya, “Wahai saudaraku, mengapa tidak pernah tampak, sehingga kami tidak mengenal dirimu?”
“Karena keadaanku yang telanjang,” katanya. Memang begitulah keadannya sehingga teman-temannya banyak yang mengolok-oloknya.
“Kalau begitu ambil jubah ini dan kenakan,” kataku.
“Tidak perlu. Kalau mereka melihatku mengenakan jubah ini pun mereka juga akan mengejekku,” katanya.
Tapi aku terus mendesaknya, sehingga dia mau mengenakannya. Lalu dia keluar sambil mengenakan jubah dariku. Benar juga, mereka mengejeknya dengan berkata, “Menurut kalian, siapakah yang telah berhasil membujuknya untuk mengenakan jubah itu.?”
Dia pulang dan mencopot jubah itu, seraya berkata kepadaku, “Engkau sudah melihat sendiri.”
Aku pun mendatangi majlis mereka dan berkata, “Apa yang kalian kehendaki dari orang itu? Kalian telah menyakiti orang yang terkadang keadaannya telanjang dan terkadang dia mengenakan pakaian.” Aku menyemprot mereka dengan kata-kata yang sangat keras.
Penduduk Kufah pernah mengirim beberapa orang utusan menemui Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu, yang di antara mereka terdapat seseorang yang suka mengejek Awis Al-Qarny Umar bertanya kepada mereka, “Adakah seseorang di antara kalian yang berasal dari Qarn ?”
Orang yang dimaksud maju ke depan. Lalu Umar berkata lagi, “Sesungguhnya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa ada seseorang yang akan datang kepada kalian dari Yaman, yang bernama Awis. Dia tidak meninggalkan siapapun di Yaman kecuali ibunya saja. Di bagian badannya ada cahaya sebesar uang dirham atau dinar. Dia berdoa kepada Allah, hingga Allah menghilangkan cahaya itu. Siapa pun di antara kalian yang bertemu dengannya, maka mintalah agar dia memintakan ampun bagi kalian.”
Umar menuturkan, “Awis benar-benar datang kepadaku. Maka aku bertanya kepadanya, “Dari mana asalmu?”
“Dari Yaman,” jawabnya.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Awis,” jawabnya.
“Siapa orang yang engkau tinggalkan di Yaman?”
“Ibuku,” jawabnya.
“Apakah engkau pernah memiliki cahaya di badanmu lalu engkau berdoa kepada Allah, sehingga Allah menghilangkannya?”
“Ya,” jawabnya.
“Mohonkanlah ampunan bagiku,” kataku.
“Apakah orang semacam aku ini patut memintakan ampunan bagimu wahai Amirul-Mukminin?” kata Awis.
Maka Awis memintakan ampunan bagiku. Lalu kukatakan kepadanya, “Wahai saudaraku, janganlah engkau meninggalkan aku.” Tapi dia tetap pergi meninggalkanku. Maka kukatakan kepada kalian, bahwa dia akan mendatangi kalian di Kufah.”
…..
Usair menuturkan, suatu malam aku menemui Awis dan kukatakan kepadanya, “Wahai saudaraku, aku melihat dirimu tidak mau menampakkan diri, sementara kami tidak merasakannya.”
Awis berkata, “Aku tidak ingin masalah ini di besar-besarkan, toh setiap hamba akan mendapatkan pahala dari amalnya.” Setelah itu Awis pergi meninggalkan mereka.
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ada beberapa riwayat lain yang serupa dengan ini, selengkapnya lihat di kitab Zuhud (Terjemahan), karya Imam Ahmad bin Hambal, Penerbit Darul Falah).

Advertisements

%d bloggers like this: